Loading

Review: Ash Live in Singapore 2018

Concertholic.id – Pada 31 Juli 2018 lalu, Ash mampir ke Singapura untuk satu pertunjukkan sebelum kembali ke Amerika Serikat, markas kreatif mereka. “Ash Live In Singapore 2018” adalah satu dari dua negara Asia yang mereka kunjungi tahun ini selain Jepang.

Terakhir kali mereka ke Singapura adalah 10 tahun lalu, di Fort Canning Park. Kini mereka memilih venue yang lebih kecil, Hard Rock Café di area Orchard. Setengah jam sebelum acara, bagian depan panggung sudah dipadati penonton yang tampak antusias dan tak sabar menunggu trio asal Irlandia tersebut. Antusiasme ini tidak luntur dan justru makin menggila pada saat acara berakhir.

Sebagai bagian dari tur promo, Ash membawakan hingga 5 lagu dari album terbaru mereka, ‘Island’. Style mereka tidak terlalu berubah, yang tentunya baik karena bisa dinikmati penggemar sejak album pertama atau penggemar baru sekalipun. ‘All That I Have Left’ cukup mengingatkan pada Ash di era ‘Free All Angels’ sementara ‘Buzzkill’ adalah Ash di awal karir mereka; terinspirasi musim panas, bersemangat, dengan lirik ekspresif yang seru untuk diteriakkan bersama.

Dibandingkan penampilan mereka di Fuji Rock Festival, setlist Ash di Singapura berdurasi lebih lama dan terasa sangat akrab. Mereka menyanyikan ‘Machinery’ yang merupakan permintaan salah satu penonton. Mark, si basis, melepaskan sepatunya yang rusak akibat hujan di Jepang dan memberikannya kepada seorang penonton di deretan paling depan. Gara-gara ini, mereka malah membawakan ‘Walking Barefoot’ yang tidak direncanakan sebelumnya. Tim mengaku sudah bertahun-tahun tidak memainkan lagu ini sehingga perlu sedikit latihan. Lagu sempat diulang karena Tim salah memasang capo.

Kejutan lainnya adalah masuknya ‘Numbskull’ dan ‘Uncle Pat’ ke dalam setlist. Album ‘Nu-clear Sounds’ sangat jarang dimainkan saat konser. Memilih Numbskull alih-alih Wild Surf yang lebih hits seolah menunjukkan bahwa mereka tetaplah Ash yang penuh energi dan mampu mengguncang venue apapun.