Loading

Terbayarnya Dua Dekade Menanti Foo Fighters di Singapura

Concertholic.id, Singapura – Pukul 7 malam waktu setempat (26/8), sejam sebelum jadwal show, Singapore National Stadium sudah dipadati ribuan orang. Tak hanya mereka yang memiliki tiket kelas standing, sebagian besar bangku di tribun sudah dipenuhi penonton dengan wajah antusias. Antrean bir dan snack  di tiap pintu pun mengular. Namun, meski di website tiket di kelas festival sudah terjual habis, nyatanya masih banyak sekali tempat kosong di bagian kiri depan panggung.

Tepat pukul 8 malam, big screen di panggung menyala. Para penonton berseru dan berteriak namun tidak ada aktivitas di panggung, hingga sekitar 15 menit kemudian. Lagu lawas, “I’ll Stick Around” jadi pembuka, diikuti “All My Life” dan “Learn to Fly” yang disela sapaan cukup panjang dari Dave Grohl.

Photo: Cinita Nestiti

Sebagai frontman salah satu band rock terbesar saat ini, Grohl sangat sadar betapa penting posisinya di atas panggung.  Sangat mudah untuk menjadikan panggung sebagai kuil pemujaan dan menganggap lambaian tangan para penonton sebagai gerakan menyembah. Tapi Grohl memperlakukan ribuan orang di hadapannya dengan sangat bersahabat dan interaksi yang akrab. Salah satu caranya adalah mengingatkan soal keselamatan diri dan teman. Beberapa kali ia mengecek kondisi penonton dan menganjurkan mereka yang tidak merasa baik-baik saja untuk minggir dari crowd.

Bentuk interaksi yang lain adalah susunan lagu. Foo Fighters bukanlah band dengan formula setlist yang kaku; mereka cukup fleksibel untuk mengubah keputusan di panggung. Karena itu, riset setlist bisa tidak memberikan gambaran akan konser selanjutnya, seperti kali ini. Lagu”This Is A Call” yang menurut bocoranakan dibawakan sebelum penutup diganti dengan “Monkey Wrench” karena Dave menyadari betapa banyaknya fans lama Foo Fighters di konser kali ini. Ia terus menyinggung soal 21 tahun lalu ketika Foo Fighters pertama kali tampil di Singapura saat baru punya satu album. Meski begitu, rasa baru Foo Fighters tetap terasa dengan perkenalan personel baru, Rami Jaffee di kibor, dan dimainkannya  lagu baru, “Run”, yang dirilis hanya beberapa minggu sebelum konser.

Malam itu lampu sorot tidak hanya jadi milik Grohl. Setiap personel unjuk gigi dengan berbagai improvisasi.  Bahkan Taylor Hawkins, yang Grohl sebut dengan ‘love of my life’, bernyanyi di lagu”Cold Day In The Sun” dari balik drum dengan rambut pirang yang berkibar diterpa angin dari kipas. Mereka tampak menikmati bermain untuk para penonton yang antusias ini.

Walaupun lagu yang dibawakan relative tidak banyak dan ‘aman’ karena mayoritas diisi dengan hits klasik, para penonton tampak sangat puas. Apalagi di beberapa lagu kesempatan bernyanyi bersama The Foos digunakan maksimal oleh penonton hingga beberapa kali  Grohl tampak terpukau dan membiarkan mereka bernyanyi.  Lagu “Big Me” yang dinyanyikan secara solo gitar terasa sangat emosional. Tapi momen paling tak terlupakan tentunya lagu “Best of You” yang diiringi sorakan kompak penonton. Hingga saat pertunjukan selesai, ribuan orang masih bernyanyi sambil pergi meninggalkan venue.

Keputusan band meletakkan “Everlong” sebagai penutup sangat tepat dan tampak telah diperhitungkan baik. Menjelang akhir konser, mereka mengingatkan bahwa mereka tidak percaya encore di mana mereka harus pura-pura masuk kebelakang panggung untuk kemudian keluar lagi. Setelah Best of You, mewakili teman-temannya,  Grohl berpamitan, “We don’t say goodbye. We say …” dan memainkan intro Everlong.

Dalam durasi dua jam, The Foos telah membuktikan mereka adalah Fresh Fighters yang sama dengan 21 tahun lalu dengan musik yang semakin matang dan energi yang tak ada habisnya. So satisfied to watch them live!

 

Teks: Cinita Nestiti

Headline Photo: Unusual Entertainment, Singapore